Senin, 03 September 2012

[Indonesia-Rising] Nasibmu Kaum Syiah di Sampang

 

Sepertinya pemerintah tidak pernah belajar dari kasus yang sudah-sudah, buktinya apa yang terjadi di Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, yakni kerusuhan yang menista penganut Syiah, pada akhir Tahun 2011, terulang kembali pada Agustus 2012. Pada peristiwa selepas Idul Fitri 1433 H ini eskalasinya bisa dikatakan lebih besar daripada peristiwa sebelumnya. Bila pada akhir tahun 2011 disebut aksi pembakaran terjadi di 4 rumah, musala, dan madrasah, maka pada Agustus ini disebut ada 2 orang tewas dan 35 rumah warga dibakar.
 
Banyak pihak menyebut konflik ini bukan urusan soal keyakinan antara Syiah dan Suni namun soal rivalitas satu keluarga, yang satu menganut Syiah, dan yang lainnya menganut Suni. Namun entah mengapa tiba-tiba masalah yang dianggap sudah selesai ini meledak kembali.

Meski disebut-sebut sebagai masalah keluarga, konflik itu juga ada nuansa rivalitas antara Syiah dengan faham lainnya. Bisa jadi ada pihak-pihak yang tidak ingin Syiah berkembang di Sampang sehingga untuk mencegah perkembangan itu maka penganut Syiah diganggu keberadaannya.

Dalam peristiwa itu ada yang menuduh bahwa Syiah adalah aliran sesat sehingga keberadaannya dianggap terlarang. Ada juga kekhawatiran penganut faham lain yang menyatakan bahwa Syiah mengganggu kemapanan faham yang sudah ada di masyarakat. Dari hal-hal inilah yang akhirnya memunculkan rivalitas pemuka kedua faham  itu.

Untuk itu di sini perlunya penjelasan pemerintah bahwa antara Syiah dan Suni adalah sama-sama Islam dan perbedaan ini adalah perbedaan yang diperbolehkan. Di sini perlu ditekankan bahwa fastabikhul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan lebih penting daripada hanya mencari dan menambah pengikut. Dasar pikiran Ummat Islam Indonesia yang saat ini lebih menonjolkan organisasi harus diubah dan dikikis dengan lebih menonjolkan inklusifitas Islam. 

Tuduhan bahwa Syiah adalah sebuah faham  yang sesat, di sini pentingnya peran pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama yang didukung oleh organisasi seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU untuk menyatakan bahwa Syiah tidak sesat. Buktinya, belum ada fatwa yang menyatakan faham  itu sesat.
Syiah hadir dan eksis di Indonesia bukan sekarang-sekarang ini saja. Kalau diselusuri, masuknya Syiah ke Indonesia (Nusantara) adalah seiring masuknya Islam ke Nusantara. Penyebar Islam di Indonesia, salah satunya adalah dari pemuka-pemuka Syiah yang datang dari Persia ketika melakukan misi dagang, persahabatan atau kebudayaan. 

Sebagai penyebar Islam di Indonesia, pemuka Syiah itu ada yang menjadi wali atau sunan. Bukti dari masuknya syiah ke Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu bisa dilihat dari relief di Klentheng Cheng Ho di Semarang, Jawa Tengah. Di situ terlihat para saudagar dari Persia atau Iran sedang melakukan kunjungan ke Nusantara. Jadi di Ummat Islam di Indonesia tidak aneh lagi dengan apa itu Syiah.

Ketika faham-faham Islam masuk ke Indonesia semua berakulturasi dengan budaya lokal. Budaya lokal yang penuh dengan rasa toleransi ini menyebabkan penganut Islam, meski berbeda faham, menjadi saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lainnya. Ini berbeda dengan apa yang terjadi di Timur Tengah dan negara-negara Arab. Mereka menganggap beda faham beda agama. Sehingga muncullah kesan diantara Ummat Islam sendiri saling bunuh dan berebut pengaruh.

Syiah yang sudah menyebar di berbagai belahan dunia, keberadaannya menjadi lebih menarik perhatiaan Ummat Islam faham lainnya ketika terjadi Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979. Revolusi Islam di Iran sebagai penarik pertama, selanjutnya keberanian pemimpin-pemimpin Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya pada waktu berikutnya menjadi penarik selanjutnya bagi penganut faham lainnya untuk berduyun-duyun menjadi Syiah. Keberanian para pemimpin Iran melawan Amerika Serikat dan sekutunya inilah yang menjadi marketing mengembangkan syiah ke segala penjuru dunia dengan sukses.

Dengan sikap tegasnya pemimpin Iran kepada Amerika Serikat dan sekutunya membuat mayoritas orang Indonesia yang Suni atau abangan pun menjadi simpati Syiah Iran. Bahkan tidak sedikit orang Indonesia yang abangan atau Suni menjadi Syiah dengan ikut atau bergabung dengan organisasi-organisasi Syiah yang ada di Indonesia, seperti di kampus-kampus maupun kelompok-kelompok pengajian. Berkembangnya Syiah yang begitu pesat inilah yang mungkin memicu faham lainnya merasa tersaingi sehingga dengan pengusiran atau penolakan tinggal di sebuah wilayah merupakan salah satu upaya untuk menghambat perkembangan. 

Apa yang terjadi di Sampang itu tentu menghkwatirkan kita semua. Peristiwa itu mengalihkan perhatian semua pihak yang saat ini fokus memberantas korupsi. Kita berharap agar kejadian di Sampang dan di tempat-tempat lainnya tidak boleh terulang lagi. Untuk itu yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Islam secara luas adalah, pertama negara jangan membiarkan atau negara harus hadir untuk menyelesaikan masalah ini. Negara harus bisa mengantisipasi secara dini kerusuhan yang akan meletus dan membawa korban. Kedua, belajar pada pengalaman di masa Orde Baru adanya keterlibatan intelijen untuk mengadudomba masyarakat, maka kita berharap masalah di Sampang ini bukan sebuah operasi intelijen untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu korupsi. Kalau memang dijadikan operasi intelijen maka hal ini harus segera diakhiri. Ketiga, MUI, Muhammadiyah, NU, dan organisasi massa Islam lainnya harus mendorong dan memberi pemahaman agar Ummat Islam lebih mengembangkan rasa toleransi kepada kelompok lainnya. Keeempat, Ummat Islam jangan sampai terjebak pada pikiran bahwa salah satu faham ingin menyaingi faham yang lain sehingga muncul rivalitas yang tak sehat. Ummat Islam harus berpikiran, mereka saudara saya sehingga kalau mau berdakwah, ayo kita bareng-bareng. 

__._,_.___
Recent Activity:
** Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". **
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar