Selasa, 04 September 2012

[Indonesia-Rising] Masjid-Gereja Bersebelahan Itu Terancam Digusur

 



Masjid-Gereja Bersebelahan Itu Terancam Digusur
Penulis : Galih Prasetyo | Senin, 3 September 2012 | 17:08 WIB
KOMPAS.com/GALIH PRASETYO Gereja Protestan Mahanaim yang berlokasi di Jalan Enggano No.52, Tanjung Priok, Jakarta Utara, berdampingan dengan Masjid Al-Muqarrabin. Gereja sudah berdiri sejak tahun 1957, sedangkan Masjid baru berdiri dua tahun setelah gereja dibangun.
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Kerukunan beragama yang ditunjukkan oleh umat Masjid Al-Muqarrabbin dan Gereja Mahanaim di Tanjung Priok, Jakarta Utara, terancam terganggu oleh rencana perluasan jalan di lokasi tersebut. Dua bangunan yang berdiri bersebelahan dan berhadapan dengan pintu Pos 8 Pelabuhan Tanjung Priok itu terancam digusur karena proyek itu.

Gereja Protestan Mahanaim sudah ada sejak tahun 1957 di Jalan Enggano No. 52, Tanjung Priok. Dua tahun kemudian, persis di sebelah gereja itu, berdirilah masjid sehingga kedua bangunan itu menggunakan satu tembok yang sama di salah satu sisi bangunannya. Tembok pemisah itu, bisa juga disebut tembok penghubung bangunan, dibangun dengan ketinggian kurang lebih 8 meter.

Kini keberadaan kedua bangunan yang berusia lebih dari setengah abad itu terancam sirna. Keduanya bakal terkena proyek perluasan jalan yang memakan lahan sekitar 17-30 meter dari lokasi jalan.

Ketua Masjid Al-Muqarrabin, Tawakal, mengatakan, pemberitahuan penggusuran telah disampaikan sejak sekurangnnya 4 bulan yang lalu melalui semacam surat edaran. Penggusuran akan dilakukan tahun ini atau paling lambat tahun 2013, menunggu pembangunan jalan tol menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

"Pihak masjid dan gereja jelas menolak. Masjid-gereja ini contoh kerukunan umat beragama. Sangat langka antara tempat ibadah hanya dipisahkan satu tembok," kata Tawakal saat ditemui Kompas.com di Masjid Al-Muqarrabin, Senin (3/9/2012) siang.

Tawakal mengatakan, kedua bangunan itu sangat unik karena terletak berdampingan. Warga yang berbeda keyakinan pun sealu menjaga toleransi antarumat beragama. Selama lebih dari 50 tahun, umat dari kedua tempat ibadah itu saling mendukung dan membantu ketika ada acara keagamaan masing-masing pemeluk agama, seperti santunan untuk anak yatim atau berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Tawakal khawatir bila penggusuran itu bakal menimbulkan gejolak. Ia mengatakan, jemaah masjid berukuran 1.500 meter persegi itu tidak kurang mencapai 4.000 orang. Masjid itu terdiri dari 2 lantai, berarti luas bangunannya mencapai 3.000 meter persegi. Pengurus masjid sedang berrencana membangun lantai ketiga. Namun, karena ada penggusuran, pengurus masjid masih menunggu kepastian rencana tersebut. Hanya kantin masjid berumur 6 tahun yang tampak sedang direnovasi selama 4 hari ini.

Menurut Tawakal, dirinya pernah mengonfirmasi perihal penggusuran itu ke pemerintah setempat. Namun, ia tak mendapatkan jawaban memuaskan karena pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa proyek pembangunan dan perluasan jalan tersebut merupakan proyek pemerintahan pusat.

"Tolong mengenai penggusuran dikaji ulang. Ini kan dua titik sentral umat islam dan Kristen. Takutnya terjadi gejolak besar. Mereka (umat) jelas menolak," ujar Tawakal yang merupakan anak dari almarhum pendiri masjid, Muhammad Tawakal Azis.

Sementara itu, Ketua Jemaat Gereja Mahanaim Pendeta Tatalede Barakati menyayangkan rencana penggusuran tersebut. Ia mengatakan, umat di masjid dan gereja itu sudah merasa seperti saudara kandung, bahkan lebih. Meski demikian, pihak gereja sudah membangun tempat relokasi di Jalan Melur I, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakara Utara.

Editor :
Laksono Hari W

__._,_.___
Recent Activity:
** Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". **
.

__,_._,___

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar